Selasa, 30 Desember 2014

Langkah Diagnosis Kesulitan Belajar



Diagnosis kesulitan belajar adalah usaha untuk meneliti kasus, menemukan gejala, menemukan penyebab serta menetapkan kemungkinan bantuan yang akan diberikan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar sehingga upaya-upaya yang dilakukan lebih terarah. Secara garis besar ada 6 langkah yang perlu ditempuh dalam rangka mengatasi kesulitan belajar.

1.    Pengumpulan data

      Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar,diperlukan banyak informasi. Untuk memperoleh informasi tersebut, maka perlu diadakan suatu pengamatan langsung yang disebut dengan pengumpulan data. Menurut Sam Isbani dan R. Isbani, dalam pengumpulan data dapat menggunakan berbagai metode, di antaranya adalah Observasi, Kunjungan Rumah, Case Study, Case History, Daftar Pribadi, Meneliti Pekerjaan Anak, Tugas Kelompok, dan Melaksanakan Tes (baik tes IQ maupun Tes Prestasi/Achievement Test). Dalam pelaksanaannya, metode-metode tersebut tidak harus semuanya digunakan secara bersama-sama akan tetapi tergantung pada masalahnya, kompleks atau tidak. Semakin rumit masalahnya maka kemungkinan akan semakin banyak metode yang digunakan. Dan sebaliknya. Data yang terkumpul dari berbagai metode yang kita gunakan, akan sangat bermanfaat dalam rangka kegiatan pada langkah selanjutnya.  
2.   Pengolahan Data 
         Data yang telah terkumpul, tidak akan berarti apa-apa jika tidak dilakukan pengilahan secara cermat. Dalam pengolahan data, langkah yang dapat ditempuh antara lain adalah Mengidentifikasi kasus, Membandingkan antar kasus, Membandingkan dengan hasil tes, dan Menarik kesimpulan. Data yang telah terkumpul dari kegiatan tahap pertama tersebut, tidak ada artinya jika tidak diadakan pengolahan secara cermat.Semua data harus diolah dan dikaji untuk mengetahui secara pasti sebab-sebab kesulitan belajar yang dialami oleh anak.
3.      Diagnosis
Diagnosis  adalah keputusan (penentuan) mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosa ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut, Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak (berat dan ringannya). Keputusan mengenai faktor-faktor yang ikut menjadi sumber penyebab kesulitan belajar. Keputusan mengenai faktor utama penyebab kesulitan belajar dan sebagainya.
4.    Prognosis
Prognosis  artinya: “ ramalan ”. Dalam “Prognosa” ini antara lain akan ditetapkan mengenai bentuk “treatment” (perlakuan) sebagai follow up dari dari diagnosa. Dalam hal ini dapat berupa Bentuk treatment yang harus diberikan, Bahan/materi yang diperlukan, Metode yang akan dipergunakan, Alat-alat bantu belajar mengajar yang diperlukan, Waktu ( kapan kegiatan itu dilaksanakan). Pendek kata, Prognosa adalah merupakan aktivitas penyusunan rencana/program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar anak. Prognosis merupakan aktivitas penyusunan rencana/program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar anak didik.
            5.   Treatment ( perlakuan )
Perlakuan di sini maksudnya adalah pemberian bantuan kepada anak yang bersangkutan (yang mengalami kesulitan belajar) sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosa tersebut. Bentuk treatment yang mungkin dapat diberikan, adalah melalui bimbingan belajar kelompok, melalui bimbingan belajar individual, melalui pengajaran remedial dalam beberapa bidang studi tertentu, Pemberian bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah-masalah psikologis, melalui bimbingan orang tua, dan pengatasan kasus sampingan yang mungkin ada.
6.       Evaluasi
Evaluasi di sini dimaksudkan untuk mengetahui, apakah treatment yang telah diberikan di atas berhasil dengan baik, artinya ada kemajuan, atau bahkan gagal sama sekali. Kalau ternyata treatmen yang diterapkan tersebut tidak berhasil maka perlu ada pengecekan kembali ke belakang, faktor-faktor apa yang mungkin menjadi penyebab kegagalan treatmen tersebut.

 

0 komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan