Diagnosis kesulitan belajar adalah usaha untuk meneliti kasus, menemukan
gejala, menemukan penyebab serta menetapkan kemungkinan bantuan yang akan
diberikan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar sehingga upaya-upaya yang dilakukan lebih terarah. Secara garis besar ada 6 langkah yang
perlu ditempuh dalam rangka mengatasi kesulitan belajar.
1. Pengumpulan data
Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar,diperlukan
banyak informasi. Untuk memperoleh informasi tersebut, maka perlu diadakan
suatu pengamatan langsung yang disebut dengan pengumpulan data. Menurut Sam
Isbani dan R. Isbani, dalam pengumpulan data dapat menggunakan berbagai metode,
di antaranya adalah Observasi, Kunjungan Rumah, Case Study, Case History,
Daftar Pribadi, Meneliti Pekerjaan Anak, Tugas Kelompok, dan Melaksanakan Tes
(baik tes IQ maupun Tes Prestasi/Achievement Test). Dalam
pelaksanaannya, metode-metode tersebut tidak harus semuanya digunakan secara bersama-sama
akan tetapi tergantung pada masalahnya, kompleks atau tidak. Semakin rumit
masalahnya maka kemungkinan akan semakin banyak metode yang digunakan. Dan
sebaliknya. Data yang terkumpul dari berbagai metode yang kita gunakan, akan
sangat bermanfaat dalam rangka kegiatan pada langkah selanjutnya.
2. Pengolahan Data
Data yang telah terkumpul, tidak akan berarti apa-apa jika tidak
dilakukan pengilahan secara cermat. Dalam pengolahan data, langkah yang dapat
ditempuh antara lain adalah Mengidentifikasi kasus, Membandingkan antar kasus,
Membandingkan dengan hasil tes, dan Menarik kesimpulan. Data yang telah
terkumpul dari kegiatan tahap pertama tersebut, tidak ada artinya jika tidak
diadakan pengolahan secara cermat.Semua data harus diolah dan dikaji untuk mengetahui
secara pasti sebab-sebab kesulitan belajar yang dialami oleh anak.
3. Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan
(penentuan) mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosa ini dapat berupa
hal-hal sebagai berikut, Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak (berat
dan ringannya). Keputusan mengenai faktor-faktor yang ikut menjadi sumber
penyebab kesulitan belajar. Keputusan mengenai faktor utama penyebab kesulitan
belajar dan sebagainya.
4. Prognosis
Prognosis artinya: “ ramalan ”. Dalam
“Prognosa” ini antara lain akan ditetapkan mengenai bentuk “treatment”
(perlakuan) sebagai follow up dari dari diagnosa. Dalam hal ini dapat berupa
Bentuk treatment yang harus diberikan, Bahan/materi yang diperlukan, Metode yang
akan dipergunakan, Alat-alat bantu belajar mengajar yang diperlukan, Waktu (
kapan kegiatan itu dilaksanakan). Pendek kata, Prognosa adalah merupakan
aktivitas penyusunan rencana/program yang diharapkan dapat membantu mengatasi
masalah kesulitan belajar anak. Prognosis merupakan
aktivitas penyusunan rencana/program yang diharapkan dapat membantu mengatasi
masalah kesulitan belajar anak didik.
5. Treatment ( perlakuan )
Perlakuan di sini maksudnya adalah pemberian bantuan kepada anak
yang bersangkutan (yang mengalami kesulitan belajar) sesuai dengan program yang
telah disusun pada tahap prognosa tersebut. Bentuk treatment yang mungkin dapat
diberikan, adalah melalui bimbingan belajar kelompok, melalui
bimbingan belajar individual, melalui pengajaran remedial dalam beberapa bidang studi tertentu,
Pemberian bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah-masalah psikologis, melalui
bimbingan orang tua, dan pengatasan kasus sampingan yang mungkin ada.
6. Evaluasi
Evaluasi di sini dimaksudkan untuk mengetahui, apakah treatment
yang telah diberikan di atas berhasil dengan baik, artinya ada kemajuan, atau
bahkan gagal sama sekali. Kalau ternyata treatmen yang diterapkan tersebut
tidak berhasil maka perlu ada pengecekan kembali ke belakang, faktor-faktor apa
yang mungkin menjadi penyebab kegagalan treatmen tersebut.






0 komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan